“About 69% of millennials said they had a savings account, compared with 65% of Gen Xers, the survey found.” –Business Insider Singapore

Meskipun sering dicap sebagai generasi #YOLO dan hanya memikirkan kehidupan untuk saat ini, ternyata milenial memiliki kesadaran akan pentingnya tabungan. Tingginya tingkat pemahaman mereka akan literasi keuangan juga membuat generasi ini lebih aware dalam mengatur flow pendapatan mereka.

Hanya saja, sebagian besar dari kita para milenial, lebih fokus pada pengeluaran yang porsinya besar saat mengatur keuangan. Mulai dari membeli tiket pesawat, membayar premi asuransi all in one, membeli tas atau sepatu mahal, membayar cicilan, atau bahkan membayar biaya hotel untuk staycation di akhir pekan. Agar cashflow bulanan tidak rusak, pendapatan yang sifatnya besar ini harus dikondisikan sedemikian rupa supaya tabungan tetap aman.

Namun demikian, pernah nggak sih kita bertanya-tanya, bagaimana dengan pengeluaran yang sifatnya kecil, tapi rutin? Apakah itu akan berdampak juga dengan keuangan bulanan kita? Yuk, deh, kita bahas bersama-sama, ya!

Berkenalan dengan latte factor
The Latte Factor: Why You Don’t Have to be Rich to Live Rich

Pernah dengar istilah latte factor? Istilah ini dipopulerkan oleh David Bach, seorang penulis sekaligus perencana keuangan di Amerika Serikat. Melalui bukunya yang berjudul The Latte Factor: Why You Don’t Have to be Rich to Live Rich, Bach menjelaskan tentang pengeluaran kecil tapi rutin yang kita lakukan setiap hari. Konsep dari latte factor ini pun sebenarnya sederhana. Menurut David Bach: Small amounts of money spent on a regular basis cost us far more than we can imagine. Yang artinya, pengeluaran kecil yang kita keluarkan secara rutin, ternyata memiliki dampak besar pada total pengeluaran kita setiap bulannya. Biasanya, pengeluaran-pengeluaran ini kita lakukan tanpa sadar karena sudah menjadi kebiasaan.

Kata ‘latte’ sendiri pun diambil dari secangkir kopi (latte), yang seolah sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, terutama untuk mereka yang tinggal di ibukota. “Gila, ngantuk banget nih belum ngopi!” atau “Do not talk to me before I got my morning coffee!” merupakan dialog yang sering kita temui di dunia kerja. Kopi sudah menjadi dopping dan kebiasaan, yang harus dikonsumsi setiap hari agar kita bisa bekerja dengan fokus dan penuh konsentrasi. Alhasil, membeli morning coffee di coffee shop terdekat seperti Starbucks misalnya, sebelum pergi ke kantor merupakan hal yang lumrah.

Harga satu cangkir kopi mungkin terasa kecil bagi sebagian besar dari kita. Dan kita pun mengeluarkannya dengan sukarela karena secangkir kopi seharga Rp38.000 bukanlah sesuatu yang mahal. Namun demikian, menurut Bach, jika dikalikan sebulan angka dari kopi ini besarannya bisa lebih tinggi dari biaya listrik atau bahkan air lho. Inilah yang kemudian mendorong Bach untuk menciptakan istilah ‘Latte Factor’ yang menggambarkan kebiasaan masyarakat ibukota untuk menghabiskan uang mereka pada hal kecil yang dilakukan setiap hari.

Latte factor tidak selamanya tentang kopi

Ya, meskipun David Bach meminjam kebiasaan ngopi masyarakat ibukota untuk menggambarkan latte factor, sebenarnya istilah ini bisa diaplikasikan untuk banyak hal. Mulai dari ongkos untuk transportasi online (yang biasanya kita bayarkan dengan OVO atau GoPay sehingga kamu merasa tak mengeluarkan uang tunai), membeli camilan, biaya transfer antar bank, hingga membeli air mineral yang sebenarnya kita bisa bawa dari rumah. Menurut David Bach, hal-hal kecil seperti ini sebenarnya bisa dipangkas dan digunakan untuk hal lainnya seperti menabung atau berinvestasi.

Latte factor bisa terjadi karena beberapa alasan. Bisa jadi karena kebiasaan, impulsive buying, atau karena tidak punya perencanaan keuangan yang baik. Mereka yang tidak terbiasa mencatat pengeluaran rutin harian pastinya tidak akan tahu bahwa pengeluaran kecil ini jika diakumulasikan ternyata berdampak buruk pada cashflow keuangan.

Menyiasati latte factor

Tidak ingin terjebak dalam latte factor? Mudah saja, nih! Kamu bisa mulai dengan mencari ‘latte factor’ yang menghabiskan porsi besar pengeluaran dalam keuangan kamu. Begini cara mengatasinya:

  1. Track your budget for a month. Bagi sebagian orang, menemukan apa yang menjadi latte factor mereka adalah hal yang sulit. Nah, menurut Bach, kalau kamu masih belum tahu apa yang menjadi ‘latte factor’ dalam pengeluaran bulananmu, kamu bisa mengecek pengeluaran selama satu bulan penuh. Find patterns in your spending that you may not even be aware are there.
  2. Highlight any small expenditures you make regularly. Setelah membuat daftar pengeluaran selama satu bulan penuh, kamu bisa melihat pengeluaran kecil yang muncul beberapa kali. Highlight the relatively small expenses that pop up multiple times during the month. Kalau ternyata pengeluaran ini tidak penting, bisa jadi inilah latte factor Ingat, latte factor tidak melulu soal kopi: latte factor juga bisa berbentuk pengeluaran Ojek Online yang kamu bayarkan setiap hari hanya karena kamu malas naik bus dari stasiun ke kantor, misalnya.
  3. Take a reality check. Now that you know how much you’re spending on your personal Latte Factor, it’s time for a reality check. Kamu sudah tahu ke mana pengeluaran-pengeluaran kecilmu pergi, dan sekarang saatnya menghitung berapa banyak total pengeluaran tersebut selama satu bulan. Multiple that spending out by the whole year, assuming that what you spent in the last month is about what you’ll spend every month.
  4. Figure out where to cut back. Meskipun kamu sudah tahu latte factor-mu, bukan berarti kamu harus memangkas pengeluaran tersebut secara total. You don’t have to cut it out entirely. Misalnya, sesuatu yang menjadi latte factor kamu adalah pembelian kopi harian. But you really love that coffee so it must be hard to cut it out entirely. Nah, untuk mengatasinya, menurut Bach, you need to find small ways to start cutting back. For instance, jika biasanya kamu membeli kopi setiap hari sebelum berangkat kerja, kamu bisa membuatnya sendiri di kantor and save your coffee as Friday treat. Dengan demikian, kamu tetap bisa menikmati kopi kesukaanmu sembari menyisihkan budget untuk ditabung.
  5. Have a plan for the money saved. If you do decide to cut back on your personal latte factor, decided ahead of time what to do with the money you’re saving. Ketika kamu tidak memiliki rencana untuk apa tabungan tersebut, maka kamu akan kembali tenggelam dalam siklus menghabiskan uang tanpa disadari. Sebab kamu tidak punya urgensi untuk menyimpan uang, sehingga mudah saja rasanya to spend money on some other convenience you haven’t recognized yet.

Ada banyak cara untuk mengatasi latte factor ini. Yang terpenting, kamu menyadari apa saja sih yang membuat pengeluaran kamu habis setiap bulan dan langsung mengambil langkah tegas untuk mengatasinya. As long as you’re being responsible and thoughtful with your spending and saving, you’re doing what works best for you!

Regards,

Tari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *